Minggu, 18 Desember 2016

INOVASI PELAYANAN PUBLIK (SINOVIK) TAHUN 2016

UNITED NATIONS OF PUBLIC SERVICE AWARD (UNPSA)
 INOVASI PELAYANAN PUBLIK (SINOVIK) TAHUN 2016
Artikel ini adalah artikel yang ditulis oleh dr.Yuliani Hasan untuk mengikuti lomba dokter terbaik di Indonesia tahun 2016. dr.Yuliani Hasan adalah pemenang nomor satu terbaik.dalam loma tersebut dan mendapat hadiah langsung sepeda motor  dari panitia lomba dan kesempatan umroh selama 9 hari dari Wali kota Palembang. dr.yuliani adalah dokter umum dan spesialis herbal yang sekarang ini bertugas di Puskesmas Kota Palembang beralamat di Belakang gedung TVRI. Palembang. karena dengan se izin beliau dan dirasakan sangat bermanfaat untuk diketahui masyarakat maka dengan izin beliau saya publikasikan artikel ini:
I.                   JUDUL ( TITLE )


Model Pelayanan Kesehatan Tradisional Integrasi di Puskesmas Kota Palembang.
II.                TANGGAL INISIATIF  ( INICIATIVE DATE )
Pelayanan Kesehatan Tradisional Integrasi di Kota Palembang dimulai sejak 2 Januari 2014
III.             KATEGORI ( CATEGORY )
1.      Perbaikan Pemberian Pelayanan Kepada Masyarakat
IV.             KRITERIA INOVASI
1.      Memberikan Pelayanan yang Berkualitas 
2.      Mempromosikan Kemitraan 
3.      Memperkenalkan Konsep Baru

V.                 GAMBARAN SINGKAT INOVASI 



Gaya hidup “back to nature” menjadi trend dunia internasional. Data Riskesdas (2013) sekitar 30,4% penduduk Indonesia memanfaatkan pelayanan kesehatan tradisional,  49% diantaranya menggunakan jamu dan merasakan manfaatnya. Data tersebut menunjukkan sepertiga penduduk Indonesia membutuhkan pelayanan kesehatan tradisional, namun fasilitas kesehatan milik Pemerintah belum mengakomodir kebutuhan tersebut.

Kini banyak bermunculan praktek pengobatan tradisional dikelola swasta, pasien dikenakan biaya mahal tetapi belum diketahui standar mutu dan keamanannya. Tak sedikit masyarakat tertipu oleh oknum yang tidak bertanggungjawab.
Di sisi lain ketergantungan masyarakat terhadap pemakaian obat medis cukup tinggi (69,6%), sehingga cenderung mengatasi penyakit  trivial dan self limiting diseases menggunakan obat OTC, padahal dapat diatasi dengan self care pengobatan tradisional Indonesia.
Kondisi diatas melatarbelakangi Dinkes mengembangkan menu layanan kesehatan tradisional integrasi untuk mendukung visi Kementerian Kesehatan (mewujudkan masyarakat yang sehat secara mandiri dan berkeadilan) dengan mengedepankan upaya promotif preventif.

Upaya strategis telah dilakukan Dinkes yaitu menyiapkan tenaga terampil melalui pelatihan, kursus dan seminar terkait dengan pengobatan tradisional, membangun Griya Sehat sebagai tempat pelayanan kesehatan tradisional terintegrasi di Puskesmas Kampus, lengkap dengan sarana pendukung, memberi layanan sauna tradisional, massage, reflexy, pijat bayi,  akupreser, akupunktur, bekam, EFT, konsultasi serta etalase herbal. Selain pelayanan kuratif, upaya promotif dan preventif telah dilakukan diantaranya pelaksanaan kelas hipertensi, DM, ibu balita gizi kurang, ibu hamil serta penyuluhan akupressur di posyandu. Untuk menjamin keberlangsungan program inovasi ini, Dinkes juga melibatkan lintas sektor terkait seperti Dinas Pertanian Kota Palembang, PKK, SP3T dan LKTM yang berperan dalam upaya pembinaan tenaga kesehatan dan penyehat tradisional.
.
Inisiatif ini telah berhasil meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan tradisional integrasi di Puskesmas Kampus kunjungan rata-tata 120 orang perbulan, kecenderungan masyarakat beralih dari menggunakan obat OTC ke pemanfaatan toga dan akupresur. Dampak lain dari program ini berhasil memberdayakan kader posyandu dalam pemanfaatan TOGA sehingga mampu membiayai operasional posyandu dan pemberian makanan tambahan.

VI.             ANALISIS MASALAH
1.      Apa masalah yang dihadapi sebelum dilaksanakannya inisiatif ini ? (maks. 500 kata)

Kecenderungan masyarakat untuk mengatasi penyakit trivial dan self limiting diseases  dengan sedikit-sedikit minum obat, menyebabkan tingginya ketergantungan masyarakat terhadap pemakaian obat bebas (OTC) yaitu 69,6%. Sebenarnya penyakit tersebut dapat diatasi dengan pengobatan tradisional berupa ramuan herbal maupun pijat akupreser. Sehingga dibutuhkan upaya yang dapat mencerdaskan masyarakat agar dapat merawat kesehatan dirinya secara mandiri.

Pada satu titik tertentu masyarakat merasakan kejenuhan dalam mencari upaya pengobatan modern yang memerlukan biaya perawatan dan pengobatan yang tinggi, sehingga mereka mulai melirik pengobatan tradisional alternatif. Namun mereka belum mengetahui standar dan manfaatnya secara tepat karena kurangnya informasi yang didapat. Hal ini berdampak pada mudahnya masyarakat tertipu oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab. Pasien dikenakan biaya yang mahal untuk mendapatkan pengobatan yang belum terjamin standar mutu dan keamanannya. Dalam hal ini yang patut diperhatikan adalah kompetensi dari individu yang membuka praktek pengobatan tersebut. Masyarakat harus pintar memilih dan menentukan pengobatan tradisional yang aman digunakan, bermutu, bermanfaat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Walaupun pengobatan tradisional sering diklaim aman, minim efek samping, mudah dijangkau dan tidak berbelit-belit dalam pelayanannya, namun penggunaannya jika tidak disertai pengetahuan yang baik tentang pengobatan ini akan berakibat fatal. Oleh karena itu sebelum memanfaatkan pengobatan tradisional sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga yang ahli dan terlatih terlebih dahulu untuk mendapatkan penjelasan secara rinci tentang jenis pengobatan tradisional yang baik dan benar. Karena itulah peran pemerintah untuk melindungi masyarakatnya dengan memberikan pelayanan kesehatan tradisional yang aman, bermutu dan bermanfaat, menjadi harapan masyarakat.

Disisi lain, gaya hidup “back to nature” menjadi trend dunia internasional sehingga pemanfaatan pengobatan tradisional seperti obat herbal (jamu), suplemen makanan, pijat maupun cara pengobatan alami lainnya cenderung meningkat. Indonesia adalah negara megabiodiversity yang kaya akan tanaman obat, dan sangat potensial untuk dikembangkan. Indonesia juga kaya dengan warisan lelulur berupa tradisi dan pengobatan tradisional seperti pijat urut, bekam, tangas (sauna alami) sebagai bentuk kearifan lokal. Perkembangan pengobatan tradisional saat ini tidak hanya berupa ramuan/obat herbal tetapi juga metoda ataupun alat kesehatan tradisional telah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Berdasarkan hasil Riskesdas 2013 menyebutkan sekitar 30,4% penduduk memanfaatkan pelayanan kesehatan tradisional,  49% diantaranya menggunakan ramuan jamu dan merasakan manfaatnya bagi kesehatan. Data tersebut menunjukkan bahwa sepertiga masyarakat Indonesia membutuhkan pelayanan kesehatan tradisional, tapi belum diakomodir oleh pemerintah.

Selama ini belum tersedia Puskesmas yang memberikan pelayanan kesehatan tradisional yang aman, bermanfaat, bermutu dan dapat dipertanggungjawabkan. Telah diketahui, Puskesmas adalah tempat pelayanan kesehatan dasar di masyarakat dan terpercaya karena dikelola oleh tenaga medis yang dilindungi sekaligus diawasi oleh pemerintah yang lebih mengutamakan upaya kesehatan promotif dan preventif, serta tidak melupakan upaya kuratif.

Kondisi diatas menjadi dasar bagi Dinas Kesehatan kota Palembang untuk mengembangkan menu layanan kesehatan tradisional integrasi yang mengkombinasikan pelayanan kesehatan konvensional dengan pelayanan kesehatan tradisional komplementer berdasarkan body of knowledge berdimensi holistik biokultural menjadi suatu sistem pelayanan kesehatan yang sesuai dengan norma agama dan kebudayaan masyarakat. untuk mendukung visi Kementerian Kesehatan (mewujudkan masyarakat yang sehat secara mandiri dan berkeadilan) dengan mengedepankan upaya kesehatan promotif-preventif.

VII.          PENDEKATAN STRATEGIS
2.      Siapa saja yang telah mengusulkan pemecahannya dan bagaimana inisiatif ini telah memecahkan masalah tersebut?  (maks. 600 kata)

Untuk mengakomodir kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan tradisional terintegrasi yang aman, bermanfaat, bermutu, dan memberikan perlindungan bagi masyarakatnya serta mencerdaskan rakyatnya agar dapat merawat kesehatan dirinya secara mandiri, Dinas Kesehatan Kota Palembang berinisiatif untuk mengembangkan menu layanan kesehatan tradisional terintegrasi yang mengkombinasikan pelayanan kesehatan konvensional dengan pelayanan kesehatan tradisional komplementer.

Pada tahun 2013, sarana dan prasarana pelayanan kesehatan kesehatan tradisional diawali dengan pembangunan gedung Griya Sehat di Puskesmas Kampus, menetapkan aturan yang jelas melalui Peraturan Walikota Palembang No 32 Tahun 2013 tentang Tarif Biaya Jasa Pelayanan Kesehatan Tradisional di Puskesmas.
Pada tahun 2014 untuk aspek legal pelayanan ditetapkanlah Puskesmas pemberi layanan kesehatan tradisional alternative komplementer melalui Surat Keputusan Walikota Nomor 52 Tahun 2014 tentang Puskesmas Pelayanan Kesehatan tradisional alternatif komplementer. Griya Sehat Puskesmas Kampus sebagai model pelayanan kesehatan tradisional integrasi mulai dioperasionalkan pada 2 Januari 2014.

Pelayanan kesehatan tradisional integrasi di Griya Sehat Puskesmas Kampus telah dimanfaatkan oleh masyarakat Kota Palembang, dengan kelompok sasaran sebagai berikut 1) Balita dengan permasalahan tumbuh kembang, batuk pilek dan gangguan makan. 2) Pasien segala usia dengan keluhan sakit kepala (myalgia, cephalgia, dll), diabetes melitus, hipertensi, dan lain-lain. 3) Ibu rumah tangga dan remaja putri. Ini terlihat dari grafik kunjungan Griya Sehat Puskesmas Kampus yang terus meningkat setiap bulannya, dengan rata rata kunjungan 120 orang perbulan dengan berbagai jenis layanan seperti akupreser, akupunktur, massage, pijat bayi, bekam, sauna, EFT, obat herbal dan konseling.

Keberhasilan pelaksanaan program ini karena dukungan banyak pihak diantaranya kerjasama dengan Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kota Palembang, LKTM, SP3T dan PKK Kota Palembang. Dinas Pertanian Kota Palembang membantu pemberian bibit TOGA kepada kelompok tani yang juga bertindak sebagai kader Posyandu di Kelurahan Lorok Pakjo. LKTM sebagai UPT Kemenkes berperan sebagai edukator yang memberikan wawasan tentang aplikasi pengobatan tradisional yang benar dan aman. SP3T juga melibatkan Pemerintah Kota Palembang dalam upaya pengkajian dan penelitian pengobatan tradisional. Sementara PKK kota Palembang membantu dalam hal pengembangan dan pemanfaatan TOGA menjadi produk yang dapat menjadi sumber pendapatan bagi kader Posyandu.

3.      Dalam hal apa inisiatif ini kreatif dan inovatif? Ilustrasikan dengan unik, bagaimana dapat menyelesaikan masalah dengan cara baru dan berbeda. Maks 200 kata.

Beberapa hal yang menjadikan pelayanan kesehatan tradisional integrasi ini kreatif dan inovatif adalah :
1.      Pengunjung Puskesmas mempunyai pilihan pelayanan yang lebih variatif untuk mengatasi masalah kesehatannya. Di Puskesmas biasa pasien hanya mendapatkan pelayanan pengobatan medis saja, maka pada Puskesmas dengan pelayanan kesehatan tradisional integrasi, pasien diberikan pelayanan kesehatan tradisional (bekam, akupreser, pijat, reflexy, sauna, akupunktur, EFT, herbal) selain pelayanan kesehatan konvensional.

2.      Tenaga kesehatan pada Puskesmas biasa hanya memiliki keterampilan dan pengetahuan medis saja, tapi pada Puskesmas dengan yankestrad integrasi tenaganya juga memiliki kompetensi dalam pengobatan tradisional.
3.      Jika selama ini pasien hanya diberikan obat medis, maka pada Puskesmas dengan yankestrad integrasi diberikan ramuan herbal
4.      Di Puskesmas yankestrad, selain diberikan konseling tentang cara minum obat dan pola hidup sehat, pasien juga diajarkan cara sederhana mengatasi masalah kesehatan dengan herbal, akupreser maupun EFT secara mandiri..
5.      Kader posyandu juga dilibatkan dalam penyediaan dan pemanfaatan TOGA sehingga dapat menambah pendapatan kader posyandu.
6.      Keterlibatan lintas sektor tidak terbatas pada instansi kesehatan, lurah/camat saja, tapi juga LKTM, SP3T, TP PKK dan Dinas Pertanian yang membantu dalam penelitian, pelatihan, pengadaan bibit toga, pengolahan dan pengemasan produk herbal.

Evaluasi pelayanan, dilakukan melalui kuesioner, sehingga bisa diketahui sejauh mana manfaat yang dirasakan pasien berupa perbaikan kualitas hidup secara fisik, mental dan sosial. .
Service evaluation, conducted through a questionnaire, so they can know the extent of the patient's perceived benefits such as improved quality of life physically, mentally and socially.

VIII.       PELAKSANAAN DAN PENERAPAN

4.      Bagaimana strategi ini dilaksanakan? (maks. 600 kata)
Uraikan unsur rencana aksi yang telah dikembangkan untuk melaksanakan strategi ini, termasuk perkembangan dan langkah-langkah kunci, kegiatan utama serta kronologinya.
Inisiatif dalam menyediakan pelayanan kesehatan tradisional integrasi di Griya Sehat dilaksanakan menurut strategi dan rencana aksi berikut :
1.        Identifikasi kekuatan dan kelemahan sumber daya pendukung dalam pelayanan kesehatan tradisional integrasi di Puskesmas.

Langkah pertama yang dilakukan dalam rencana aksi ini adalah melakukan kajian dengan mengadakan rapat koordinasi dengan kepala Puskesmas di Kota Pelembang untuk mengetahui ketersedian sumber daya dan potensi keberlangsungan penyediaan layanan kesehatan tradisional integrasi. Salah satu Puskemas yang dinilai paling siap untuk penyediaan layanan ini adalah Puskesmas Kampus yang terletak di tengah kota dan memiliki dokter, tenaga kesehatan dan kader yang berkompeten dan  terlatih dalam pengobatan tradisional dan komplementer, sehingga Puskesmas ini dijadikan model tempat pelayanan kesehatan tradisional integrasi.
2.        Peningkatan pengetahuan dan keterampilan tenaga medis
Inisiatif Dinas Kesehatan Kota Palembang dalam menjadikan Puskesmas dengan pelayanan kesehatan tradisional Integrasi dimulai sejak tahun 2012 dengan menyelenggarakan pelatihan akupreser bagi dokter dan paramedis, pembinaan terhadap pengobat tradisional, melakukan studi banding ke Mahidol University dan Golden Jubilee Hospital Thailand dan kunjungan ke B2P2TOOT (Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional) Tawangmangu, Jawa Tengah. Pada Tahun 2013 kembali mengadakan pelatihan akupreser yang diikuti oleh dokter, perawat dan bidan pada 13 Puskesmas, peningkatan kualitas petugas kesehatan tradisional herbal (ramuan) diikuti oleh dokter, paramedis dan asisten apoteker dari 14 Puskesmas. Untuk meningkatkan kualitas layanan, tahun 2014 Dinas Kesehatan mengirim petugas untuk mengikuti Pelatihan Baby Spa di Yogyakarta. Tahun 2015 Dinas Kesehatan bekerjasama dengan LKTM ( Loka Kesehatan Tradisional Masyarakat) dalam kursus Akupunktur bagi Paramedis Puskesmas di Kota Palembang,

3.        Pembangunan Sarana dan Prasaranan (Griya Sehat dan Gazebo Pemberdayaan Masyarakat).
Tahun 2013 Dinas Kesehatan melalui Dana APBD Kota Palembang memulai pembangunan Griya Sehat khusus untuk memberikan pelayanan kesehatan tradisional dan komplementer lengkap dengan sarana dan prasarananya di Puskemas dan diresmikan sebagai model penyedia pelayanan kesehatan tradisional integrasi pada 2 Januari 2014. Awalnya jenis pelayanan yang diberikan sebatas akupreser dan bekam yang kemudian berkembang hingga saat ini memiliki sebelas jenis pelayanan. Dan tahun 2015 merenovasi gedung Puskesmas Kampus serta membangun Gazebo Pemberdayaan Masyarakat di Puskesmas Kampus.
                       
4.        Penetapan Peraturan Daerah.
Untuk mengatur dan memberikan jaminan hukum dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan tradisional integrasi di Griya Sehat, Pemerintah Kota Palembang menerbitkan Peraturan Walikota Palembang No 32 Tahun 2013 tentang Tarif Biaya Jasa Pelayanan Kesehatan Tradisional di Puskesmas dan Surat Keputusan Walikota Nomor 52 Tahun 2014 tentang Puskesmas dengan Pelayanan Kesehatan tradisional alternatif komplementer.
   
5.        Sosialisasi melalui pemberdayaan masyarakat, yaitu :
a.    Seminar “Tetap Sehat di usia Lanjut” bersama dr.Agus Rahmadi (2013) dan seminar Sehat di Usia Lanjut Tanpa Obat bersama Dr. Eddy Iskandar (2014).
b.    Gerakan bersama penanaman tanaman obat. Bibit tanaman obat disediakan oleh Dinas Kesehatan dan bantuan Tim PKK Kota Palembang.
c.    Pengenalan manfaat dan demo akupreser dan pijat bayi bagi kader posyandu.
d.    Mengadakan Lomba Minuman Sehat berbahan herbal bagi kader posyandu
e.    Praktek pembuatan sabun herbal dan minuman herbal berbahan dasar serai bagi kader posyandu.
f.      Pengenalan manfaat TOGA bagi masyarakat dalam upaya preventif promotif dan pertolongan pertama (self care) pada keluarga dalam mengatasi gejala penyakit trivial dan self limiting diseases di Posyandu.
g.       Bakti Sosial Pelayanan Kesehatan Tradisional Integrasi berupa pelayanan akupunktur dan EFT dalam memperingati Hari Kesehatan Nasional ke-51 bulan November 2015 di Puskesmas Kampus
6.      Kerjasama dengan lintas sektor terkait, yaitu Dinas Pertanian Kota Palembang, LKTM (Loka Kesehatan Tradisional Masyarakat) dan Tim Penggerak PKK Kota Palembang.
7.      Puskesmas sebagai pemberi pelayanan kesehatan tradisional integrasi terus berupaya melakukan langkah-langkah strategis untuk meningkatkan cakupan pelayanan. Langkah yang dilakukan oleh Puskesmas Kampus adalah:
a.       Perubahan alur pelayanan, dimana semua pasien harus mendaftar di Loket pendaftaran, Ditujukan ke Poli (Poli Umum, Poli Anak, Poli KIA/KB atau Poli Gigi) untuk dilakukan anamnesis dan pemeriksaan dan penetapan diagnosa.
b.      Sesuai dengan kebutuhan pengobatan, pasien dirujuk ke griya sehat, laboratorium, klinik gizi atau unit obat.
c.       Pasien yang disarankan untuk dirujuk ke Griya Sehat adalah pasien dengan keluhan sakit kepala (myalgia, cepfalgia), diabetes melitus, hipertensi, dan lain-lain, bayi dengan permasalahan tumbuh kembang, batuk pilek dan gangguan makan.
d.      Di Griya Sehat, pasien diberikan konseling tentang pengobatan tradisonal dan EFT secara gratis untuk menangani kondisi penyakit yang diderita. Pasien diberikan penjelasan tentang pemanfaatan tanaman obat yang bisa dibuat sendiri di rumah bahkan terapis tidak segan memberikan tips sehat dengan herbal. Jika tidak diperlukan tindakan/terapi maupun ramuan herbal, pasien langsung mengisi kotak saran dan boleh pulang.
e.       Jika pasien setuju dan perlu, akan dilakukan tindakan/terapi (bekam, akupreser, breast care, akupunktur, sauna, massage, facial, pijat bayi) maupun diberikan ramuan herbal dengan pengawasan dokter. Sebelum diterapi pasien terlebih dahulu menandatangani surat persetujuan (informed consent).
f.        Setelah dilakukan tindakan/terapi, pasien membayar jasa tindakan sesuai dengan Peraturan Walikota Palembang No 32 Tahun 2013 tentang Tarif Biaya Jasa Pelayanan Kesehatan Tradisional di Puskesmas.
g.       Pasien juga diberi kesempatan untuk mengajukan komplain atas pelayanan yang diberikan, mengisi kuesioner dan pulang.
h.       Puskesmas Kampus telah menyusun SOP tatalaksana penyakit Hipertensi dan Diabetes Melitus.

8.      Siapa saja pemangku kepentingan yang terlibat dalam pelaksanaan? (maks. 300 kata)

Penyelenggaraan Griya Sehat di Puskesmas Kampus tidak terlepas dari berbagai pihak yang telah berkontribusi secara langsung maupun tidak langsung terhadap keberhasilan pelayanan kesehatan tradisional integrasi di Puskesmas, diantaranya adalah :
1.      Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kemenkes bidang Pelayanan Kesehatan Tradisional, LKTM (Loka Kesehatan Tradisional Masyarakat) telah membantu dalam teknis penyediaan layanan kesehatan tradisional dan komplementer di Puskesmas.
2.      SP3T (Sentra Pengembangan dan Penerapan Pengobatan Tradisional) Dinas Kesehatan Provinsi dalam pengkajian dan penelitian.
3.      Dinas Pertanian Kota Palembang dalam hal pemberdayaan masyarakat melalui kelompok tani binaannya yang juga merupakan kader posyandu dengan memberikan bibit tanaman obat dan praktek cara pembuatan sabun dan minuman herbal berbahan dasar serai.
4.      PKK Kota Palembang sebagai pembina kader, telah membantu pengadaan bibit tanaman obat, pengemasan dan pemasaran produk herbal yang dihasilkan kader.
9.         Sumber daya apa saja yang digunakan untuk inisiatif ini dan bagaimana sumberdaya dimobilisasi? Sebutkan biaya untuk sumberdaya keuangan, teknis dan manusia yang berkaitan dengan inisiatif ini, Bagaimana proyek ini dibiayai dan siapa yang mendukung pembiayaan tersebut. (maks. 500 kata)

Untuk menyediakan pelayanan kesehatan tradisional integrasi di Puskesmas, berbagai pemangku kebijakan menyediakan dana guna mendukung inisiatif ini :
1.      Tahun 2012 Dinas Kesehatan Kota Palembang menyiapkan anggaran sebesar IDR 140.000.000,- untuk studi banding ke Mahidol University dan magang di B2P2TOOT Tawamangu.
2.      Tahun 2013 Dinas Kesehatan Kota Palembang memulai pembangunan gedung Pelayanan Kesehatan Tradisional (Griya Sehat) dan pengadaan obat herbal sebesar IDR 425.700.000,-
3.      Tahun 2014 Dinas Kesehatan Kota Palembang menyediakan anggaran sebesar IDR 155.000.000,- untuk pelaksanaan Program Upaya Kesehatan Tradisional.

4.      Tahun 2014 Dinas Pertanian Kota Palembang mensupport upaya pemberdayaan masyarakat yang digagas oleh Puskesmas Kampus dengan dana sebesar IDR 47.000.000,- untuk pembuatan taman pembibitan tanaman obat dan taman gizi di RT 06 Kelurahan Lorok Pakjo, Palembang.
5.      Tahun 2015 Dinas Kesehatan Kota Palembang melakukan renovasi gedung pelayanan kesehatan konvensional di Puskesmas IDR 950.000.000,- membangun Gazebo Pemberdayaan Masyarakat sebesar IDR 74.000.000,- pengadaan obat herbal IDR 120.000.000,-.
6.      LKTM berperan dalam upaya peningkatan kapasitas tenaga kesehatan di Puskesmas dengan pelatihan akupunktur. Melihat komitmen Dinas kesehatan Kota Palembang, LKTM mensponsori kegiatan Bakti Sosial Pelayanan Kesehatan Tradisional Integrasi yang dipusatkan di Puskesmas Kampus.
7.        Tim Penggerak PKK Kota Palembang mendorong upaya pemberdayaan masyarakat dengan bantuan alat pengemas produk kelompok tani/posyandu binaan Puskesmas Kampus dan Dinas Pertanian Kota Palembang.

8.      Puskesmas Kampus, dalam kegiatan operasional Griya Sehat memberikan insentif bagi tenaga pelaksana pelayanan dan sosialisasi pemanfaatan pengobatan tradisional di Posyandu.
Health Center Campus, in Griya Healthy operations provide incentives for implementing energy services and dissemination of traditional medicine use in IHC
Seluruh pendapatan Puskesmas dikelola sesuai dengan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah (PPK-BLUD). Sedangkan Sumber daya manusia yang terlibat dalam pelaksanaan penyediaan pelayanan kesehatan tradisional integrasi di Puskesmas ini adalah :
1.    Walikota dan Sekda Kota Palembang
2.    Kepala Dinas Kesehatan Kota Palembang
3.    Kepala Puskesmas dan tenaga medis di 14 Puskesmas replikasi di Kota Palembang
4.    Kelompok tani dan kader Posyandu
5.    Pengurus dan Anggota Tim Penggerak PKK Kota Palembang
6.    Kepala Dinas Pertanian dan Penyuluh Pertanian
7.    Kepala LKTM

10.  Apa saja keluaran (output) yang paling berhasil?
Keluaran nyata yang dicapai oleh pelayanan kesehatan tradisional integrasi di Puskesmas adalah sebagai berikut :
1.      Peraturan Walikota Palembang No 32 Tahun 2013 tentang Tarif Biaya Jasa Pelayanan Kesehatan Tradisional di Puskesmas.
2.      Surat Keputusan Walikota Nomor 52 Tahun 2014 tentang Puskesmas dengan Pelayanan Kesehatan tradisional alternatif komplementer.
3.      Terjalin kerjasama yang baik dengan Dinas Pertanian Kota Palembang yang telah memfasilitasi bibit TOGA untuk kader posyandu yang juga merupakan kelompok tani binaannya.
4.      Kerjasama dengan LKTM dalam pengembangan pelayanan pengobatan Tradisional di kota Palembang.
5.      PKK Kota Palembang sebagai pembina kader, telah membantu pengadaan bibit tanaman obat, pengemasan dan pemasaran produk herbal yang dihasilkan kader.
6.      Bertambahnya tenaga kesehatan yang dapat memberikan pelayanan akupunktur di beberapa Puskesmas di Kota Palembang.
7.      Terbentuknya kelas hipertensi telah mendorong kesadaran dan peningkatan pengetahuan pasien dalam mengelola penyakit hipertensi secara mandiri dan mampu membagi pengetahuan dan keterampilannya kepada penderita hipertensi lainnya.

Pelayanan kesehatan tradisional integrasi yang diberikan Puskesmas Kampus melalui Griya Sehat telah berhasil memberikan beberapa perubahan pada masyarakat Kota Palembang, diantaranya adalah :
1.      Meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan tradisional yang aman digunakan, bermutu, bermanfaat dan dapat dipertanggungjawabkan yang diberikan oleh Griya Sehat Puskesmas Kampus yang mengkombinasikan pelayanan kesehatan konvensional dengan pelayanan kesehatan tradisional dan komplementer yang dilakukan secara bersama oleh tenaga kesehatan dan tenaga kesehatan tradisional untuk pengobatan/perawatan pasien/klien.
2.      Peningkatan kunjungan pasien ke Griya Sehat Puskesmas Kampus.
3.      Upaya pemberdayaan masyarakat terkait pemanfaatan TOGA. Hasil penjualan produk TOGA telah dimanfaatkan kader untuk operasional posyandu dan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) balita.
4.      Terlaksanana self care tingkat rumah tangga terkait upaya kesehatan preventif dan promotif melalui pemanfaatan TOGA dan akupreser.

11.     Sistem apa yang diterapkan untuk memantau kemajuan dan mengevaluasi kegiatan?
Untuk memantau kemajuan dan mengevaluasi inisiatif ini, Dinas Kesehatan Kota Palembang secara berkala melakukan pemantauan dan evaluasi pelayanan kesehatan tradisional integrasi melalui laporan bulanan dan kunjungan ke Puskesmas penyelenggara untuk memastikan pelayanan kesehatan tradisional integrasi ini berjalan secara efektif dan lancar. Puskesmas yang telah mereplikasi inisiatif ini menggunakan beberapa cara untuk mengevaluasi kualitas layanannya, yaitu :
1.      Kotak saran (koin puas dan tidak puas)
2.      Kuesioner
3.      Rekam medis dan catatan kunjungan
4.      Komplain atas komplikasi akibat pelayanan kesehatan tradisional integrasi yang telah diberikan.

Evaluasi dilakukan setiap akhir bulan, untuk mengetahui jumlah kunjungan, jenis penyakit, jenis tindakan/terapi yang diminati, jumlah tindakan yang telah dilakukan oleh masing-masing terapis dan juga untuk menilai mutu layanan yang telah direrima pasien.

Salah satu contoh bagaimana temuan pengawasan dan evaluasi telah memberi dampak dalam kegiatan ini adalah perubahan alur pelayanan kesehatan tradisional integrasi di Puskesmas. Sebelumnya pasien yang berkunjung diperbolehkan langsung menuju Griya Sehat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan tradisional komplementer, kini semua pasien harus melalui pemeriksaan kesehatan secara umum baru kemudian dirujuk ke Griya sehat untuk mengedepankan konsep integrasi dalam pelayanan kesehatan ini.

12.  Apa saja kendala utama yang dihadapi dan bagaimana kendala tersebut dapat diatasi?
Dalam proses penyelenggaraan inisiatif ini ditemukan beberapa kendala sebagai berikut :
1.        Walaupun masyarakat umumnya mengakui dan merasakan manfaat obat herbal tapi masyarakat masih enggan memilihnya karena dikenakan biaya tambahan. Di Puskesmas, obat dan tindakan medis digratiskan sedangkan obat herbal dan tindakan di Griya Sehat pasien harus membayar sesuai dengan peraturan walikota, hal ini disebabkan karena pelayanan Kesehatan Tradisional belum termasuk dalam pembiayaan asuransi kesehatan. Karena itu, Puskesmas Kampus mengubah alur layanan dan menambah menu konseling pelayanan kesehatan tradisional yang diberikan secara gratis. Dengan perubahan ini diharapkan masyarakat semakin mengerti dan memahami tentang layanan kesehatan tradisional yang dapat dilakukan melalui asuhan mandiri. Untuk promosi disediakan pojok minuman herbal yang bisa dimanfaatkan dengan cuma-cuma sebagai daya tarik bagi pengunjung. Griya Sehat juga menyediakan ramuan minuman sehat yaitu teh serai dan sabun serai, obat-obatan herbal tradisional Indonesia yang bisa dibeli dan dimanfaatkan oleh masyarakat.
2.        Pasien lebih memilih pengobatan dengan menggunakan terapi dengan/tanpa alat. Puskesmas mengakomodir kebutuhan ini dengan terus mengembangkan jenis pelayanan, hingga kini tersedia sepuluh jenis pelayanan selain ramuan herbal, yaitu bekam, akupresur, massage dewasa, sauna, pijat bayi, akupuntur, perawatan payudara, reflexy dan EFT (Emotional Freedom Tehniques).
3.        Belum ada formulasi obat herbal yang tepat untuk mengobati penyakit tertentu/ spesifik. Ada beberapa sediaan Obat Tradisional di Puskesmas yang telah teruji klinis di laboratorium sehingga aman digunakan. Selain itu Puskesmas juga terus berupaya memberikan konseling untuk memotivasi pasien tentang pemanfaatan obat herbal, karena efek samping yang ditimbulkan oleh tanaman obat relatif lebih kecil dibandingkan dengan obat dari bahan kimia. 
4.        Kekurangan tenaga medis yang terlatih untuk memberikan pelayanan kesehatan tradisional diatasi melalui kemitraan dengan tenaga pengobatan tradisional yang terlatih sebagai pekerja harian lepas.
5.        Standar baku spesifik dari Kementrian Kesehatan tentang penyelanggaraan pelayanan kesehatan tradisional dan komplementer yang terintegrasi dengan pelayanan kesehatan konvensional di Puskesma belum ada, sehingga Puskesmas dituntut untuk terus berinisiatif dalam perbaikan pelayanan kesehatan ini melalui revisi SOP.

IX.             DAMPAK DAN KEBERLANJUTAN
13.  Apa saja manfaat utama yang dihasilkan inisiatif ini? (maks. 700 kata)

Pelayanan kesehatan tradisional integrasi yang diberikan Puskesmas Kampus melalui Griya Sehat telah berhasil memberikan beberapa perubahan pada masyarakat Kota Palembang, diantaranya adalah :
1.      Griya Sehat telah memberikan pelayanan kesehatan tradisional integrasi yang mengkombinasikan pelayanan kesehatan konvensional dengan pelayanan kesehatan tradisional dan komplementer di Puskesmas secara mengalami peningkatan kunjungan rata-rata sebesar 100% dibandingkan tahun sebelumnya. Hal tersebut mengindikasikan kepercayaan masyarakat mulai terbangun terhadap pelayanan kesehatan tradisional integrasi, kualitas tindakan dan obat herbal yang aman digunakan, bermutu, bermanfaat dan dapat dipertanggungjawabkan karena dikelola oleh tenaga kesehatan tradisional dengan latar belakang pendidikan medis. Data kunjungan pelayanan kesehatan tradisional integrasi dapat dilhat pada lampiran grafik 1.
2.      Pelayanan kesehatan tradisional integrasi cukup memberikan hasil yang baik dalam memperbaiki kualitas hidup pasien, misalnya dengan peningkatan nafsu makan, badan terasa lebih segar dan nyaman, rasa sakit berkurang, dapat istirahat dengan cukup dan dari sisi emosional pasien lebih menerima penyakit yang dideritanya. Kunjungan tertinggi di Griya Sehat Puskesmas adalah pasien myalgia, hipertensi, arthritis, diabetes melitus. Sedangkan jenis pelayanan kesehatan tradisional integrasi yang paling diminati adalah massage, ramuan obat herbal, akupresur, dan bekam.
3.      Adanya kelas hipertensi di Puskesmas Kampus, telah meningkatkan pengetahuan dan kesadaran pasien untuk memanfaatkan tanaman obat disekitarnya dan menerapkan pola hidup sehat dalam merawat kesehatan diri dan keluarganya.
4.      Dalam upaya pemberdayaan masyarakat, Griya Sehat telah membuka peluang bagi kader posyandu untuk lebih produktif dan inovatif dalam penyediaan ramuan herbal yang higienis dengan kemasan yang lebih baik. Hal ini tidak terlepas dari jalinan kerjasama antara Puskesmas, Dinas Kesehatan Kota Palembang, PKK Kota Palembang dan Dinas Pertanian Kota Palembang yang telah memfasilitasi bibit toga, pengolahan hasil toga dan pembuatan sabun sereh. Hasil penjualan produk toga telah dimanfaatkan kader untuk operasional posyandu dan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) balita. Kedepannya jika permintaan masyarakat terhadap ramuan herbal semakin meningkat, tidak menutup kemungkinan dapat dijadikan sumber tambahan penghasilan bagi kader.
5.      Terlaksanana self care tingkat rumah tangga terkait upaya kesehatan preventif dan promotif melalui pemanfaatan toga dan akupreser. Hal ini membuktikan bahwa Puskesmas melalui Griya Sehat telah mendukung tercapainya misi Kementerian Kesehatan dalam mewujudkan masyarakat yang sehat secara mandiri dan berkeadilan, dengan mengedepankan promotif preventif melalui edukasi bahwa obat herbal dan akupreser dapat digunakan sebagai pertolongan pertama pada keluarga sebagai self care untuk mengatasi penyakit ringan yang bisa sembuh dengan sendirinya sehingga mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap obat-obatan medis.

14.     Apakah inisiatif ini berkelanjutan dan direplikasi? (maks. 500 kata)
Sejak persiapan inisiatif ini dimulai tahun 2012, Pemerintah Kota Palembang terus memberikan supportnya dengan memberi ruang dalam penganggaran belanja daerah terhadap biaya penyelenggaraan Griya Sehat di Puskesmas. Hingga saat ini, Griya Sehat di Puskesmas sering mendapatkan kunjungan dari berbagai pihak. Dengan ketersediaan lahan, Puskesmas telah mengembangkan diri tidak hanya sebagai tempat pelayanan kesehatan tradisional integrasi saja, tapi menjadikan Puskesmas sebagai tempat budi daya tanaman obat, sarana pendidikan dan promosi berbagai obat tradisional, minuman herbal dan pelayanan kesehatan tradisional bagi pelajar, mahasiswa dan masyarakat. Untuk mewujudkan hal tersebut telah dibangun kebun tanaman obat yang tertata dan terkelola dengan baik untuk mengenalkannya kepada masyarakat. Pada bulan Oktober 2015 pembangunan gedung pelayanan kesehatan konvensional di Puskesmas ini telah selesai, sehingga diharapkan sinergi pelayanan pengobatan tradisional integrasi akan berjalan dengan lebih baik.

Sejatinya seluruh Puskesmas dapat menyelenggarakan pelayanan kesehatan tradisional integrasi karena pada umumnya Puskesmas telah memiliki sarana dan prasarana yang memadai seperti bangunan, Sumber Daya Manusia hingga lahan Puskesmas yang bisa difungsikan sebagai Taman Obat Keluarga (TOGA). Tempat pelayanan tidak harus memiliki gedung khusus karena bisa juga memanfaatkan ruang yang sudah ada berupa poli untuk pelayanan kesehatan tradisional dan komplementer. Yang paling penting adalah sejauh mana kesiapan tenaga medis di Puskesmas untuk menjalankan, mengelola dan mengembangkan poli tersebut.

15.        Apa saja pembelajaran  yang dapat dipetik? (maks. 500 kata)
·        Adanya peningkatan peran dan fungsi Puskesmas selain untuk upaya pengobatan juga melaksanakan fungsi promotf dan preventif melalui pengenalan pelayanan kesehatan tradisional.
·        Terjalinnya kerjasama dengan lintas program dan lintas sektor yang terkait sangat membantu keberhasilan penyelenggaraan pelayanan kesehatan tradisional integrasi di Puskesmas, karena dalam pelaksanaannya mereka akan memberikan dukungan dan bantuan yang sangat berarti untuk mengembangkan pelayanan tersebut.
·         Masyarakat dan Pemerintah khususnya Dinas Kesehatan Kota Palembang telah memberikan perhatian dan komitmen yang tinggi terhadap pelayanan kesehatan tradisional yang selama ini terpinggirkan.
·        Pemberdayaan masyarakat melalui kader posyandu memegang peranan yang sangat penting, karena selain sebagai ujung tombak penggerak masyarakat setempat untuk secara mandiri sadar dan peduli akan kesehatan mereka dapat dijadikan mitra dalam pembudidayaan tanaman obat serta menjadi penyedia bibit tanaman obat dan ramuan herbal sehingga menjadi contoh bagi anggota masyarakat disekitarnya.
·        Pelayanan Kesehatan Tradisional mampu menggerakkan roda ekonomi kader posyandu dan kelompok tani melalui inovasi pengolahan produk berbahan tanaman obat, hal ini berdampak pada semangat kerja kader posyandu untuk semakin berkiprah dalam pelayanan kepada masyarakat.
·        Masyarakat semakin menyadari tentang manfaat tanaman obat yang selama ini sudah ada disekitar mereka, namun belum dimanfaatkan secara optimal.
·        Terselenggaranya pelayanan kesehatan tradisional integrasi di Puskesmas menuntut tenaga kesehatan untuk mengikuti berbagai pelatihan dalam rangka peningkatan wawasan dan keterampilan sehingga dapat memberikan pelayanan kesehatan tradisional integrasi yang aman, bermutu dan dapat dipertanggungjawabkan.

Link berita :



komitmen pemerintah dalam pembangunan gedung :


http://www.dinkes.palembang.go.id/?nmodul=berita&bhsnyo=id&bid=243

Daftar singkatan

Dinkes            :    Dinas Kesehatan Kota Palembang
PKK              :    Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga
SP3T              :    Sentra Penerapan dan Pengembangan Pengobatan Tradisional Provinsi Sumatera Selatan
LKTM            :    Loka Kesehatan Tradisional Masyarakat
OTC               :    over the counter
DM                :    Diabetes Mellitus
TOGA            :    Tanaman obat keluarga
SPA               :    Sehat pakai air
Riskesdas       :    Riset Kesehatan Dasar









Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri yang Diunggulkan

Contoh laporan Penelitian Tindakan Kelas

< !-- Bahan pelajaran --> BAB I PENDAHULUAN A.     Latar Belakang Masalah Semua guru atau siswa pasti selal...